Halaman

Tantangan menulis lomba blog PGRI hari keduapuluhlima

 Pentingnya Unggah-ungguh Basa

Oleh: Pono, S.Pd.SD



Salah satu tanda adanya peradaban manusia adalah adanya tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Tatanan wujud dalam semua sendi kehidupan manusia. Tidak berlebihan kiranya disebutkan, bangsa  dengan peradaban tinggi hidup dengan teratur dan bermartabat. Keteraturan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat melambangkan adanya hukum yang ditaati oleh bangsa atau masyarakat tersebut, baik hukum yang tertulis maupun tidak tertulis.

Hukum yang tertulis jika dilanggar mengakibatkan mendapat sanksi. Hukum yang tidak tertulis timbul dan berkembang di masyarakat, jika dilanggar mengakibatkan mendapat sanksi sosial dari masyarakat. Sanksi sosial  bisa berupa cemoohan, dikucilkan dalam pergaulan atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Untuk itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat perlu memperhatikan aturan-aturan yang ada baik tertulis maupun tidak tertulis.

Etika

Bangsa dengan peradaban tinggi sangat memperhatikan etika dalam segala lini kehidupan. Baik dalam bergaul dengan sesama manusia, dalam bekerja, dalam lingkungan keluarga, bahkan ketika bersendiri. Jelasnya etika yang ditunjukkan seseorang merupakan bukti bahwa ia seorang yang beradab.

Setiap bangsa atau masyarakat memiliki etika yang ia pegang. Satu sama lain mungkin ada kesamaan serta ada pula perbedaan. Semuanya itu merupakan khazanah budaya yang patut disyukuri serta dijaga. Sebagai contoh mengenai 'tata krama' dalam pergaulan. Pada lingkungan masyarakat satu dengan masyarakat yang lain mungkin ada sedikit atau banyak perbedaan. Semua itu merupakan khazanah budaya yang patut disyukuri serta dijaga. Jika seseorang melanggarnya maka akan disebut sebagai 'tidak beretika' atau 'tidak memiliki etika'.

Peribahasa

"Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung", begitu peribahasa yang maknanya lebih kurang adalah kita harus menghormati adat resam masyarakat yang kita kunjungi atau masyarakat tempat kita berada. (Bagi pembaca mungkin ada yang mengetahui makna yang lebih tepat dari peribahasa tersebut. Jika berkenan sudilah kiranya  berbagi ilmu guna melengkapi tulisan ini yang jauh dari kesempurnaan)

Melestarikan budaya merupakan tanggungjawab suatu bangsa atau masyarakat. Dengan ciri khas budayanya, sebuah bangsa mudah dikenal oleh bangsa lain. Bukankan Tuhan menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Ayah) dan seorang  perempuan (Ibu) dan menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. 

Dengan mempelajari dan melestarikan budaya berarti menjadikan seseorang mengenali jati dirinya sebagai suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Sebagai contoh tata krama dalam bergaul di tengah masyarakat Jawa dikenal dengan istilah 'unggah-ungguh'. Tata krama dalam berbicara disebut 'unggah-ungguh Basa'. 'Unggah-ungguh basa' merupakan aturan dalam berbicara di tengah masyarakat dalam bahasa Jawa. Baik berbicara dalam keluarga maupun di luar keluarga. Di dalam rumah ataupun di luar rumah. Di tengah derasnya arus globalisasi saat ini, 'unggah-ungguh basa mulai pudar di tengah masyarakat. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi kemunduran tersebut. Tidaklah bijak menyebutkan siapa yang salah. Ini merupakan masalah bersama yang perlu ditemukan solusinya. 

Solusi 

Berbicara mengenai solusi, salah satunya yang mungkin dilakukan adalah melalui  jalur pendidikan. Seperti dalam peribahasa yang saya tulis pada postingan sebelumnya, yaitu "melentur buluhnya bermula dari rebungnya" maka kebiasaan yang baik perlu ditanamkan sejak kecil. Begitu pula dalam membiasakan anak-anak menggunakan 'unggah-ungguh' dalam berbicara perlu dimulai sejak masih kecil.

Demikian yang dapat saya tulis hari ini. Kritik dan saran dari pembaca amat berharga bagi penulis.

Banjarnegara, 25 Pebruari 2021 malam.

Blog penulis: www.ono.my.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar