Resume 8 Pelatihan Belajar Menulis (18 Nopember 2020)

 Resume 8

Pelatihan Belajar Menulis (19 Nopember 2020)

Oleh: Pono,S.Pd.SD



Narasumber: Eva Hariyati Israel, S.Kom

Moderator : Aam Nurhasanah



Sebelum kelas dimulai moderator mengajak peserta berdoa sejenak.

Moderator memperkenalkan diri. Selanjutnya memperkenalkan moderator.

“ Narasumber malam ini adalah ibu Eva Hariyati Israel, S.Kom. asli Kupang, NTT.  Beliau adalah alumni kelas belajar menulis gelombang 7. Satu angkatan dengan Ditta Widya Utami, narasumber tempo lalu. Beliau juga salah satu duta Rumah Belajar seperti Bapak Hamzah Ramdhani dari Sulsel.”


Kali ini ada permintaan khusus dari narasumber, bahwa sesi tanya jawab, bisa dilayangkan langsung saat sesi materi supaya kelas makin hidup. Bagi yang ingin bertanya silakan ketik nama, alamat, dan pertanyaan kirim ke 085710996088.

Narasumber dipersilakan memasuki kelas.

Narasumber menyapa peserta. Serta mengucapkan terima kasih untuk Om Jay untuk kesempatan dan kepercayaannya untuk berbagi di grup ini, mendoakan Om Jay serta mengucapkan terima kasih kepada Aam Nurkhasanah atas kesediaannya menjadi moderator. 

Narasumber mengirimkan video profil. Beliau adalah salah satu Duta Rumah Belajar dari provinsi NTT.

Narasumber mengirim link ke blog yang memuat kisah menulis untuk pertama kalinya dan tantangan serta pengalaman beliau. 

https://evaman219.blogspot.com/2020/09/menulis-buku-7-hari-mungkinkah.html

Narasumber menyampaikan bahwa Malam ini afalah kali ke 2  diminta om Jay untuk sharing pengalaman menulis.

Hal yang akan dibagikan malam ini tentang kisah lanjutan dari apa yang sudah ditulis diblog tadi,pengalaman selama proses editing buku dengan penerbit hingga proses terbitnya buku pertama.

Narasumber melanjutkan ceritanya.

Setelah buku dinyatakan diterima tanpa revisi oleh penerbit mayor( penerbit Andi) mulailah proses editing pertama oleh pihak penerbit.

Proses editing ini berlangsung dengan beberapa tahapan hingga buku terbit


1.Editing Sampul : saat sampul pertama kali dikirim  rasanya sudah sangat senang sekali sepeti melihat buku saya sudah jadi.

2. Editing naskah oleh penerbit, tata kelola urutan dan tulisan disesuaikan dengan konsep dan gaya bahasa kita.

3.Setelah editing penerbit naskah proof dikirim kembali ke penulis beserta surat perjanjian penerimaan naskah dan royalty bagi penulis. Sebagai penulis kita diberi kesempatan melihat kembali susunan dan tata bahasa buku kita sebelum dinaikkan ke proses cetak.

4.Setelah editing oleh penulis naskah kembali dikirim ke penerbit untuk selanjutnya ke proses cetak.

Berselang 1 bulan setelah editing naskah proof dikirim akhirnya tibalah masa yang ditunggu tunggu launching buku pertama yang dirangkai dengan seminar Digital Mainset yg disajikan melalui bincang daring dengan Prof.Eko melalui zoom dengan TV.Andi.

Inilah salah satu keuntungan jika buku kita diterbitkan penerbit mayor, marketingnya tdk lagi membebani kita.

Narasumber mengirim link video YouTube berkenaan acara launching bukunya.

https://youtu.be/YspVsvQWTSo

Narasumber mnyampaikan bahwa selama proses belajar dalam grup menulis bersama om jay ini ,refleksi peristiwa, perasaan dan pembelajaran serta pengembangan diri bisa didapatkan dalam komunitas menulis ini.

Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa hal menarik lainnya yang didapatkan dari proses menulis ini dan bisa lolos kurasi dan di terbitkan oleh penerbit Mayor adalah bertambah wawasan dan keilmuan tentang publikasi dan teknik menentukan tema penulisan yang sesuai tren zaman.

Selanjutnya beliau menyampaikan, “ Ini beberapa hal yang saya dapatkan dari grup menulis ini hadirnya narasumber narasumber yg luar biasa yang terus berbagi dan memotivasi.”

Buku bisa lolos ke penerbit mayor jika memenuhi beberapa kriteria diantaranya.

1.tema buku jika di cari pada google trends menunjukkan grafik yang bagus

2.Profil penulis ,semakin terkenal dan kredibel akan sangat baik

3.Target pasar yang menguntungkan

4.Ragam tulisan kita sesuai dengan visi misi penerbit.

Keuntungan yang kita dapat ketika berhasil menulis dan buku di tulis itu terbit;

1.Kepuasan batin.satu hal yang tidak bisa kita ukur dengan apapun

2. Integritas ,kredibilitas dan percaya diri semakin baik

3.Motivasi bertambah

4.Terbuka peluang peluang baru untuk menjadi narasumber, motifator menulis dan hal hal positif lainnya

5.Royalty

Narasumbermenyampaikan bahwa perasaan beliau setelah buku pertama terbit

Bahagia tak terkira ketika 100 exp yang dipesan sahabat-sahabat guru berhasil terjual ini sudah pencapaian yang luar biasa sebagai bentuk dukungan dan motifasi untuk lebih giat lagi.apalagi dengan dukungan komunitas seperti PGRI merupakan berkah tersendiri buku mendapat apresiasi dan dilabeli logo PGRI pada sampul depannya.

Motifasi narasumber untuk menulis  adalah berbagi dan berkarya. Dengan menulis berarti  membagikan ilmu yang bermanfaat dan  menhasilkan sebuah karya yang akan tidak akan hilang.

Ketika menemukan ide dan semangat itu ada langsung lakukan jangan ditunda...pasti lebih mengalir.

Dukungan sekitar adalah salah satu yang patut kita syukuri saat ini kita berada dalam komunitas menulis yg memiliki visi misi yang sama mengembangkan diri sendiri, kalau tekat dan niat sudah ada bergerak, ini yang paling menggerakkan kita.

Rumah belajar adalah portal pembelajaran yang dikelola oleh pustekkom sekarang dikenal dengan pusdatin kemdikbud yang memberikan ruang seluas luasnya untuk siapa saja berbagi, belajar, dan melakukan proses pembelajaran secara gratis dan terus diupdate dan berkesinambungan dalam pemeliharaanya.Sebagai salah satu pengembangan diri dalam hal keprofesian sebagai guru, mengikuti program PembaTIk dari pusdatin hingga berbagi inovasi pembelajaran dengan rumah belajar menjadi bagian dari diri saya

Kiat sukses dalam menulis sehingga mampu menyelesaikan dalam 7 hari adalah fokus dan yakin, lakukan dengan nyaman dan sepenuh hati jangan lupa doa Kita pasti bisa, ketika kita sudah memulai sesuatu yang baik maka kebaikan kebaikan lainnya juga akan mengikut termasuk motifasi dan semangat juga dengan sendirinya hadir.

Narasumber mengajak peserta menulis 3 paragraf singkat. 

Narasumber menutup kelas pelatihan


Resume 7 Pelatihan Belajar Menulis(16 Nopember 2020)

 Resume 7 

Pelatihan Belajar Menulis (16 Nopember 2020)

Oleh: Pono,S.Pd.SD



Narasumber: Taufik Hidayat S.E S.Si.,M.Si

Moderator: Aam Nurhasanah

Mula-mula moderator memohon izin, mengunci karena sebentar lagi  akan masuk sesi kuliah.

Moderator mengajak peserta berdoa sebelum kuliah dimulai.

Moderator memperkenalkan diri, selanjutnya memperkenalkan narasumber kepada peserta. 

Narasumber adalah Bapak Taufik Hidayat, S.E, S.Si, M.Si. Seorang dosen dan penulis buku yang sudah keliling 70 negara dan 5 benua.

Narasumber memiliki nama pena, TAUFIK UIEKS

Sebelum melanjutkan sesi narasumber meminta izin untuk sholat isya.

Narasumber mengirimkan beberapa foto dan link untuk dibaca. Peserta menyimak materi sejenak, sambil menunggu narasumber memasuki kelas.  


Gambar di atas merupakan bagian dari artikel yang ditulis narasumber. Yang menceritakan perjalanan ke Meksiko yang ada di buku Tamasya ke masa depan Jilid 2.

Narasumber mengirimkan tautan link ke postingan di blognya yang menceritakan kehidupan malam di Broadway, menyimpan kisah misteri arwah yang gentayangan di deretan Theatre yang menjadi salah satu ikon Manhattan. 

https://risalahmisteri.com/detail/541/kisah-misteri-pertemanan--hantu-broadway-di-newyork

Narasumber juga mengirimkan link menuju menu profil pada blognya. https://www.risalahmisteri.com/member/profile/31

Narasumber juga mengirim link menuju artikel yang membahas jalan Ong Sum Ping di Brunei. https://terbitkanbukugratis.id/taufikuieks/11/2020/gak-nyangka-di-brunei-ada-jalan-ong-sum-ping/

Narasumber juga mengirim tautan menuju artikel di Kompasiana yang berjudul Secangkir Kopi untuk Perdamaian di Rwanda.

Narasumber mengirim gambar artikel masjid Niujie di Beijing dalam buku jejak langkah menuju Baitullah jilid ke 3


Narasumber mengatakan bahwa artikel yang disampaikan nantinya jadi bahan diskusi sehabis sholat isya.
Setelah selesai menjalankan sholat isya, narasumber menyapa peserta dan juga moderator. Selanjutnya narasumber menanyakan aturan perkuliahan di WAG. 
Moderator menjelaskan aturan di grup. Kemudian narasumber memulai perkuliahan. 
Narasumber bercerita mengenai  pengalaman menulis berdasarkan perjalanan.
Sebagai contoh banyak kisah perjalanan narasumber yang selain ada di blog juga ada di majalah seperti Intisari .. majalah angkasa majalah colour Garuda dll.
Dari suatu kisah perjalanan bisa menjelma menjadi tulisan berbentuk artikel atau bahkan buku .

Ini adalah beberapa buku karangan narasumber dengan nama  pena Taufik Uieks.

 1 .Mengenbara ke masjid -masjid di pelosok dunia .. peniti media th 2015
2, 1001 Masjid di 5 benua  Mizan 2016
3. Jejak langkah menuju Baitullah jilid 1-3. Thn 2020
4. Tamasya ke Masa Depan Jilid 1-2

Jadi perjalanan -perjalanan yang ditulis  dimulai sekitar tahun  2004 
Nanti ada buku berikut yaitu kisah perjalanan ke Brunei merupakan kisah sejak 1997-2018 ..
Jadi dari perjalanan bisa jadi artikel .. 
1. Mengamati 
2. Membuat foto
3. Diskusi wawancara 
4 .mencari informasi tambahan 
5. Mencari keunikan 
6 . Merangkum dalam tulisan
Kita juga bisa bercerita berdasarkan foto yang ada . Mengingat kembali detail keadaan ruangan arsitektur bangunan dan sebagainya  juga perhatikan siapa saja yang ada suasana di sekitar cuaca dsb.
Bagi narasumber melakukan perjalanan apalagi ke mancanegara ada baiknya mengetahui juga sedikit banyak mengenai budaya,bahasa , kebiasaan dan sejarah tempat yang dituju .
Narasumber mengirimkan artikel berjudul Menapaki Awal Benua Eropa di Georgia. Yang dimuat di majalah. Yang merupaka contoh artikel dimana kita bisa menceritakan pengalaman kita travelling dengan foto foto dan menuliskan nya untuk majalah agar bisa dinikmati orang banyak
. Menggunakan bahasa yang sederhana , simpel namun menarik.
Mencoba menciptakan semacam branding pada tulisan kita akan membuat tulisan lebih menarik dan hidup.
Dalam tulisan saya juga perlu sediikit memasukan dialog atau percakapan dalam bahasa lokal .  Walau kita bisa sedikit sedikit. Menulis buku adalah kompilasi beberapa artikel dengan tema yang sama.
Lalu bagaimana menulis menjadi buku ? Misalnya mengenai perjalanan ke masjid masjid .
Satu demi satu artikel mengenai masjid dikumpulkan dan kalau sudah banyak bisa menjadi 

KBM Tatap Muka menggunakan Internet di masa Pandemi

Sobat blogger, kali ini saya akan bercerita tentang apa yang saya alami pada kegiatan belajar mengajar di kelas tadi pagi. Bagi sebagian orang, ketika berbicara mengenai KBM di dalam kelas mungkin kurang menarik atau dianggap sesuatu yang biasa. Karena berlangsung setiap hari dan dilakukan oleh semua guru. Namun tak apalah saya bercerita pengalaman langsung KBM di kelas pada Pembelajaran Tatap Muka. Barangkali ada yang sedikit berbeda dengan teman-teman. Kalau sudah baca, jangan lupa menulis  komentar ya, karena saran serta masukan dari pembaca sangat berguna bagi saya.

Begini ceritanya, 




Kegiatan  Belajar Mengajar pada Sabtu, 18 Nopember 2020

Setelah melakukan cuci tangan pakai sabun dan memeriksa suhu tubuh, anak-anak pun segera  masuk ruang kelas dengan  berjalan sendiri-sendiri dan menjaga jarak dengan teman-teman. Sebelum anak-anak masuk  semua, saya pun menyiapkan alat-alat dan media belajar yang diperlukan, diantaranya; laptop, proyektor dan tablet. jumlah tablet yang digunakan saya sesuaikan dengan jumlah anak-anak. Selanjutnya saya memastikan semua siswa dapat mengakses layanan internet melalui perangkat tablet yang ia gunakan. Kebetulan sekolah sudah memasang jaringan internet.  Kalau tablet sudah tersedia, laptop  dan proyektor juga tersedia, jaringan internet juga sudah siap, kenapa tidak dilaksanakan KBM mengunakan fasilitas yang ada, hmm.

Setelah anak-anak masuk semua, dan media belajar sudah siap digunakan. KBM pun dimulai.......

Diawali salam PPK dan tepuk PPK dengan posisi berdiri. Masih ingat kan dengan salam PPK. Ketika saya mengucapkan "salam PPK" maka anak-anak pun menjawab "salam,,.. cerdas, berkarakter, menyenangkan, luar biasa, hebat hebat hebat". Kemudian saya mengucapkan "tepuk PPK" , anak-anak pun melakukan tepuk tiga kali diikuti "religius", tepuk tiga kali lagi diikuti "nasionalis", tepuk tiga kali lagi diikuti "mandiri", tepuk tiga kali lagi diikuti "gotong-royong", tepuk tiga kali lagi diikuti "integritas".

Selesai salam dan tepuk PPK selanjutnya,

Menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Usai menyanyi lagu Bagimu Negeri, semua duduk pada kursinya masing-masing dilanjutkan berdoa.

Untuk ketertiban dalam berdoa, salah satu anak memimpin berdoa dengan memberi aba-aba "berdoa mulai" dan "berdoa selesai".
Selesai berdoa, semua pesawat tablet dinyalakan, mulailah kegiatan pembelajaran.
Bak kata pepatah, "sekali dayung dikayuh, dua tiga pulau terlampaui".
Pada waktu bersamaan, anak-anak belajar menggunakan buku pelajaran tematik sekaligus berlatih menggunakan beberapa fitur dari internet.


Mengirim jawaban via e-mail

Anak-anak membaca  cerita/informasi pada buku siswa T 4 ST 1 Pb.5   hal. 37-38 dengan judul Batik, Seni Tradisional Indonesia yang Mendunia dengan teknik membaca pemahaman. Selesai membaca, anak-anak menjawab pertanyaan yang terdapat pada   hal. 39 nomor 1. Cara mengerjakannya dengan menuliskan jawaban disertai nama anak pada perangkat tablet, selanjutnya dikirimkan kepada saya melalui alamat email. Saya memantau melalui email dan memberikan balasan kepada anak-anak yang sudah menjawab  dengan kalimat “ Terima kasih sudah mengirimkan jawaban”. Kepada anak-anak yang telah mengirimkan jawaban sesuai arahan melalui email. Anak-anak yang hanya mengirimkan email kosong (belum berisi jawaban) dibalas dengan kalimat  “Belum mengirim jawaban”. Tujannya agar anak tersebut mengirim ulang dengan jawaban yang benar sesuai arahan. Karena pada kasus kedua, anak-anak baru belajar mengirim email, belum menjawab pertanyaan yang ada di buku.

Berikutnya anak-anak  menjawab pertanyaan yang terdapat pada   hal. 39 nomor 2. Cara mengerjakannya dengan menuliskan jawaban disertai nama anak pada perangkat tablet, selanjutnya dikirimkan kepada saya melalui email.  Saya memantau dan memberikan balasan kepada anak-anak yang sudah menjawab  dengan kalimat “ Terima kasih sudah mengirimkan jawaban” kepada anak-anak yang telah mengirimkan jawaban sesuai arahan. Anak yang hanya mengirimkan email kosong (belum berisi jawaban) dibalas dengan kalimat  “Belum mengirim jawaban”. Tujuannya agar anak tersebut mengirim ulang dengan jawaban yang benar.  Setelah anak-anak mengirim jawaban melalui email semua,  dilanjutkan dengan menulis jawaban pada kolom komentar  blog.


Menulis jawaban pada kolom komentar blog.

Berikutnya saya menulis pertanyaan pada blog terkait isi bacaan Batik , Seni Tradisional Indonesia yang Mendunia sebanyak 4 pertanyaan. Namun tidak semua dari empat pertanyaan harus dijawab. Setelah membaca cerita dengan judul Batik , Seni Tradisional Indonesia yang Mendunia, anak-anak mencermati soal yang tertera pada blog, dan mengerjakannya. Cara mengerjakannya adalah anak-anak  menulis jawaban untuk soal nomor 3 pada kolom komentar disertai nama  anak. Setelah anak-anak menulis pada kolom komentar blog, saya  memeriksa / memantau blog. Berapa anak  yang sudah menulis jawaban pada kolom komentar. Setelah anak-anak mengerjakan tugas menulis jawaban pada kolom komentar.  Saya mengumumkan bahwa  soal nomor 4  dikerjakan di rumah. Menggunakan pesawat handphone masing-masing yang sudah terkoneksi internet. Dan sudah berisi kuota internet dari kemdikbud. Cara mengerjakannya sama dengan cara mengerjakan soal nomor 3.  Saya berencana memantau anak-anak  mengerjakan tugas dengan melihat blog. Serta mengingatkan/mengarahkan anak-anak melalui WAG.  


Memposting hasil tugas pada blog.

Setelah mengirim jawaban pada kolom komentar blog, anak-anak melakukan kegiatan membaca pemahaman. Kali ini yang dibaca adalah cerita/informasi pada buku siswa Tema 4 ST 2 Pb. 2  hal. 59-61 dengan judul  Pengrajin Garut yang Menembus Dunia.  Setelah memahami isi bacaan, anak-anak menceritakan kembali dengan bahasa sendiri. Cerita tersebut disampaikan/dipaparkan dalam bentuk tulisan yang diposting/diunggah pada blog yang telah disiapkan saya siapkan. Tulisan yang diposting disertai nama anak yang menulis.  Kemudian  memublikasikannya. Saya memantau blog dan anak-anak. Berapa yang sudah memosting, berapa yang belum memosting.  Setelah anak-anak berhasil masuk ke blog dan mengerjakan tugas sesuai arahan, saya mengumumkan bahwa anak yang belum berhasil menyelesaikan tugas,  menjadikannya sebagai PR. Cara mengerjakan PR yaitu anak-anak menceritakan kembali dalam bentuk tulisan dan mengirim jawaban ke alamat email saya.  Agar saya dapat memostingnya pada blog yang dimaksud. Blog yang saya sediakan untuk memosting jawaban anak-anak, saya setel agar yang dapat memosting pada blog tersebut hanya alamat email saya dan alamat email yang sudah disingkronkan pada perangkat tablet sekolah. Adapun alamat email pada perangkat handphone anak-anak atau yang lain tidak diperkenankan mengirimkan tulisan pada lembar postingan. Hanya dapat menulis pada kolom komentar.

Mengenal portal Rumah Belajar Kemdikbud.

Setelah posting – memosting selesai dilanjutkan pengenalan terhadap portal Rumah Belajar Kemdikbud.

Dimulai dengan  mengenalkan alamat website untuk mengakses Rumah Belajar yaitu belajar.kemdikbud.go.id. Selanjutnya mengenalkan fitur-fitur  penting yang ada pada Rumah Belajar, antara lain ;

Sumber Belajar, Kelas Maya, Bank Soal, dan Laboratorium Maya.

Setelah mengenalkan fitur – fitur pada rumah belajar, selanjutnya saya memberikan sedikit penjelasan kepada anak-anak bahwa melalui fitur Sumber Belajar, anak- anak dapat belajar banyak hal. Adapun caranya anak-anak mengeklik tombol 'coba sekarang' pada Sumber Belajar. Selanjutnya memilih jenjang pendidikan, kelas  dan mata pelajaran yang akan dipelajari.

Setelah menjelaskan tentang  cara menggunakan fitur Sumber Belajar, selanjutnya menjelaskan mengenai cara mengakses Bank Soal, yaitu dengan mengeklik tombol 'coba sekarang', kemudian memilih jenjang pendidikan, kelas, mata pelajaran, dan memilih lembar  soal. 

Selain    Sumber Belajar dan Bank  Soal, saya juga menjelaskan pada  anak-anak, bahwa mereka bisa belajar dan bermain pada Laboratorium Maya. Caranya hampir sama dengan yang lain yaitu dimulai  dengan mengeklik tombol 'coba sekarang', selanjutnya memilih jenis percobaan.

Mengenai penggunaan portal Rumah Belajar belum dilakukan pada pertemuan kali ini. Rencananya dilakukan pada pertemuan mendatang.



Terima kasih telah membaca tulisan saya sampai selesai. Jika berkenan silakan menulis komentar pada kolom komentar. Komentar dari pembaca sangat bermanfaat bagi penulis. 

Pembelajaran dengan blog

 1. Apa tujuan awal buatan batik?

2. Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang motif batik Indonesia.

3. Apa upaya yang telah dilakukan untuk mengenal batik Indonesia ke dunia internasional?

4. Tulis komentarmu setelah mengetahui bahwa batik Indonesia diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia. 

Resume 6 Pelatihan Belajar Menulis (13 Nopember 2020)

 Resume 6  

Pelatihan Belajar Menulis (13 Nopember 2020)

Oleh: Pono,S.Pd.SD


Narasumber: Nur Alien Halvaima, SH. MH.

Moderator : Aam Nurhasanah




Mila-mula moderator memohon izin untuk mengunci grup sebentar, karena kelas akan dimulai. Agar lebih mudah.

Setelah berdoa, moderator menyampaikan biodata dari narasumber.


Beliau adalah Anak Bugis-Makassar yang dilahirkan 10 Agustus 1960. Nama beliau Nur Aliem Halvaima, SH, MH. Nama pena dan media sosial adalah Nur Terbit. Anak ke-3 dari 7 bersaudara pasangan Haji Muhammad Bakri Puang Boko - Hajjah Sitti Maryam Puang Mene.

Tahun 2015 beliau menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Jakarta, program S2 ilmu hukum dengan tesis "Pola Pemberian Upah Untuk Kesejahteraan Wartawan Media Cetak di Provinsi DKI Jakarta". Sedang S1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas  Syari'ah dan Hukum. Sementara Sarjana Muda di IAIN Alauddin Makassar. 

Nur menjalani profesi wartawan daerah di Makassar sejak masih kuliah, berlanjut jadi koresponden Harian Terbit (Pos Kota Grup) di Sulawesi Selatan. Tahun 1984 hijrah ke Jakarta bergabung jadi reporter kemudian redaktur. Tahun 2014 saat koran tempatnya bekerja "dijual", Nur pensiun dini tapi tetap menulis dan jadi redaktur media online www.possore.com sampai saat ini.

Pengalaman jurnalis Nur sebagai pemegang kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers - PWI Pusat ini, antara lain : Wartawan/Editor Surat Kabar Harian Terbit (Pos Kota Grup) 1980-2014. Pemred Vonis Tipikor versi  majalah dan online 2014-2017. Pemred Corong versi majalah dan online 2019-2020. Pemred Telescope versi majalah dan online 2020. Redaktur Eksekutif Possore.com 2015 s/d Sekarang. Redaktur/Admin tamu sejumlah media online, majalah, tabloid 2014 s/d sekarang.


Prestasi menulis antara lain : Dua kali berturut-turut Juara Lomba Menulis Artikel Bertema Pramuka antar wartawan dan Umum Tingkat Nasional 2011 dan 2013, yang digelar Kwarnas Pramuka. Juara Lomba Menulis Pengalaman Mudik Asyik Republika Online. Juara di beberapa lomba menulis blog antara lain: Online Shop Kudo, Lomba Menulis Puisi Spontan Pedas, Lomba Blog Teacher Writing Camp IGI Bekasi, Smartphone Oppo, Dompet Duafa, Asuransi Raksa Online, Online Shop Shofie Martin, Restauran Bebek Kaleyo, BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir), Tokoh Populer, Suara Konsumen.

Di tengah kesibukannya itu, Nur sebagai blogger masih sempat menulis di blog pribadi www.nurterbit.com, Kompasiana, Kumparan, Viva, Blogdetik (alm), PepNews, Tokoh Populer, Suara Konsumen, Risalah Misteri, Terbitkan Buku Gratis, bahkan aktif membuat konten video di channelnya YouTube.com/nurterbit. Tahun 2019 Nur meraih Juara Utama Lomba Video YouTube Asuransi Mobil Raksa Online.

Berbekal pendidikan formal dan pengalamannya meliput berita hukum selama jadi wartawan, Nur juga sesekali bersidang mendampingi kliennya di pengadilan sebagai lawyer (pengacara). Buku "Wartawan Bangkotan" adalah karya kedua Nur mengenai dunia pers. Sebelumnya kumpulan tulisannya "Lika-Liku Kisah Wartawan" diterbitkan PWI Pusat memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2020.

Kelas dibagi dalam 2 sesi yaitu sesi materi dan sesi tanya jawab.

Moderator mempersilakan narasumber untuk memasuki kelas. 

Terima kasih.

Narasumber mengucapkan salam dan menyapa peserta.

Narasumber menyatakan bahwa pekerjaan beliau selama ini menulis. Baik menulis berita, peristiwa, laporan pandangan mata dari lapangan. Istilah jurnalistiknya reportase.

Media beliau waktu itu (1980-2014) adalah media cetak (koran) secara tertulis atau (kadang) dilengkapi foto dari TKP (istilah kepolisian tempat kejadian perkara) ke kantor redaksi koran/media

Baik ketika masih wartawan daerah di Makassar, maupun setelah bergabung di Jakarta sebagai reporter di Harian Terbit (Pos Kota Grup).

Di media, ada format atau standar baku, yakni berita tidak boleh (dilarang) memasukkan opini penulisnya atau wartawannya.

Ada perbedaan pola penulisan berita di koran/media dengan menulis bebas untuk artikel di media. Tentu beda lagi jika menulis untuk karangan ilmiah, skripsi, makalah, tesis atau disertasi.

Tapi si wartawan jika ingin menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, boleh saja. Ada tempat khusus yakni opini, artikel, yang by name...

Untuk rubrik artikel di media, sudah disiapkan, baik koran, majalah, tabloid, dll.

Selain wartawan sebagai tugas utamanya, rubrik opini ini bisa diisi oleh orang luar. Maksudnya pembaca, sesuai keahlian dan bidang yang dikuasainya.

Untuk tulisan ini, ada kompensasi dari redaksi media tersebut, berupa honorarium yang besarnya tergantung kemampuan media yang bersangkutan.

Mereka  yang ahli/pakar satu bidang ilmu, bahkan menjadi penulis tetap, yang tentu honornya juga lumayan.

Saat ini media besar seperti Kompas, Majalah Tempo, Republika, Media Indonesia dan beberapa majalah menerapkan standar honor.

Kini era berganti dengan online. Sayangnya dengan datangnya era digital ini, media cetak dan sebangsanya, banyak yang tiarap lalu tidur untuk selamanya. Satu sisi mengurangi pasar media cetak, sisi lain membuka peluang baru sebagai netizen, atau citizen jurnalism. Media Informasi pun makin banyak pilihan.

Dulu harus ke lapak K5, lampu merah, pengecer, agen untuk dapat membeli koran/majalah, sekarang cukup dengan gadget atau hp, dunia sudah terbentang luas.

Narasumber sudah mulai mencoba menulis sejak masih SD. Dulu ada namanya buku inpres, berbagai jenis buku bacaan, pelajaran, dongeng, cerita petualangan. Termasuk majalah anak2 Si Kuncung. Mungkin ada yang masih ingat, tapi Kuncung sudah "wafat" diteruskan majalah Bobo dan rekan-rekannya.  Kebetulan ayah Dari narasumber kerja di P dan K (kini Kemendikbud) Kab Maros Sulsel.  Bertanggungjawab membagikan buku2 tersebut ke sekolah2, terutama Dikdas, pendidikan dasar di daerah tersebut.

Dari situlah narasumber terbiasa membaca buku2. Dimana kemudian sangat berguna  pada kehidupan selanjutnya saat mulai belajar menulis. Benar kata orang,  untuk mahir menulis harus banyak membaca.

Di bangku SD itu pula, narasumber mulai berani mengirim tulisan ke media, tepatnya di koran daerah tempat beliau tinggal di Makassar.

Tulisannya tentu yang ringan sesuai usia pelajar SD.

Ada koran Pedoman Rakyat (PR), koran tertua di Makassar, bahkan se Indonesia Timur. Tentu bangga ketika pertama kali tulisan dimuat di koran. Yang lebih bangga lagi dapat honor, dikirim via wesel pos

Puisi Anak, Cerita Anak, bahkan mengirim gambar di rubrik Anak.

Setelah tulisan sudah berani dikirim ke koran dan dimuat, mulai tambah berani ikut lomba menulis. Narasumber beberapa kali mewakili sekolah untuk lomba menulis antar sekolah dan Alhamdulillah...menang.

Moderator mempersilakan peserta untuk bertanya.

Kurang tahu, kenapa lomba menulis antar murid, sekolah ada lagi ya sekarang?

Yang ada malah lomba menulis blog bagi guru ya? Salut untuk KSGN

Narasumber kebetulan sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama. Untuk ujian akhir, semua siswa harus praktek di SD. Kebagian praktek mengajar di SD Muhammadiyah Maros Sulsel., dapat kelas 6 yang muridnya badan besar, sementara beliau berbadan kecil

Pengalaman berkesan mengajar kelas 6 SD yang muridnya seperti GIANT (teman Doraemon - Nabita itu), beliau tulis dan kirim ke lomba mengarang pengalaman ke majalah remaja HAI (Kompas grup). Hadiah kamus Indonesia-Inggris M Sadeli dan kaos HAi

Menjadi wartawan resmi saat sudah kuliah di IAIN Makassar. Selain jadi pengelola koran kampus.

Terus berlanjut ke Jakarta bergabung di Harian Terbit (grup Poskota)

Mulai belajar menulis opini, tulisan feature, laporan bersambung, sesekali cerpen percintaan atau tema keluarga. 2014 saat pensiun dini, mulai fokus menulis blog, Kompasiana, mengenal medsos (FB, Twitter, Instagram dan YouTube).

Ikut berbagai lomba nulis. Beberapa diantaranya menang. Hadiah laptop, kamera, handphone dan yang sering flashdisk, atau voucher belanja.

Dari sekian banyak tulisan yang tercecer di mana-mana itulah setelah dikumpulkan akhirnya jadi buku. Yang terbaru diterbitkan YPTD-nya Pak Thamrin dahlan adalah "Wartawan Bangkotan". Tadi diantar TIKI dari percetakan ke rumah. Seblumnya ada "Lika-Liku Kisah Wartawan" terbitan PWI Pusat 2020.

Akan menyusul buku bacaan ringan : MATI KETAWA ALA NETIZEN






Resume 5 Pelatihan Belajar Menulis11 Nopember 2020

 Resume 5

Pelatihan Belajar Menulis (11 Nopember 2020)

Mengubah Ekspektasi Menjadi Prestasi

Oleh Pono,S.Pd.SD


Narasumber : Jamila K. Baderan, M.Pd.

Moderator : Aam Nurhasanah, S.Pd.


Salah satu bentuk pengembangan diri dan mengeksplore kompetensi bagi guru adalah dengan cara bergabung dalam satu komunitas positif seperti WA Grup Belajar Menulis. Bukan tanpa alasan, tentunya setiap peserta yang bergabung disini punya harapan yang ingin dicapai. Terkait dengan hal tersebut maka hal yang ingin dishare oleh narasumber  adalah tentang : Mengubah Ekspektasi Menjadi Prestasi

Kata “ekspektasi” tentunya sudah sangat familiar di telinga kita. Setiap orang, setiap saat pasti memiliki ekspektasi terhadap berbagai hal yang di inginkan dalam hidup. Sebagai contoh, ekspektasi kita ketika bergabung dalam grup ini adalah ingin menghasilkan sebuah karya berupa jejak literasi yang dapat dikenal dan dikenang meskipun kita sudah berkalang tanah. Sayangnya, ekspektasi kita tidak selalu sama dengan realita. Ekspektasi tak seindah kenyataan. Hal inilah yang kemudian menjadi inspirasi dalam tulisan buku ke-2 narasumber yang diterbitkan pada tahun 2019.

Dalam hal menulis, harapan terbesar kita adalah mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah paragraf menarik yang terus berangkai menjadi bab demi bab hingga akhirnya menjadi sebuah buku. Sekilas, menulis adalah hal yang sangat mudah. Bukankah kita sudah sering menulis sejak kecil? Tetapi, ketika kemampuan menulis tersebut disandingkan dengan ekspektasi sebuah karya yang bernilai bagi orang lain muncullah masalah besar. Diantaranya :

1. Bagaimana memulai sebuah tulisan?

2. Apa ide/topik yang harus kita tulis?

3. Apakah tulisan saya menarik?, dls.

Mewujudkan ekspektasi memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bagi para penulis pemula. Dalam prosesnya kita harus berjuang melawan semua hambatan yang datang baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar.

Sebenarnya, tantangan menulis terbesar itu ada pada diri kita sendiri. Yaitu mood dan kemauan alias niat. Oleh karena itu untuk mengubah ekspektasi menjadi prestasi kita harus berubah. Ada 2 hal penting yang harus kita ubah, yaitu mindset dan passion. Mindset adalah cara pikir tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Sementara passion adalah sesuatu yang membuat kita tidak pernah merasa bosan.Kedua hal ini di bahas secara detail dalam buku narasumber yang ketiga hasil kolaborasi bersama Prof. Eko Indrajit yang Alhamdulillah di terima dan diterbitkan oleh Penerbit Andi.


Pengalaman narasumber dalam mewujudkan ekspektasi dalam menulis adalah berjuang membangun tekad  dan keyakinan yang kuat untuk mencapai realitas. Terkadang narasumber  juga harus nekat mengambil keputusan yang jika dipikir dengan akal sehat pencapaiannya sangat mustahil. Untuk itulah beliau selalu berusaha konsisten terhadap ekspektasi yang susah payah dibangunnya. Pantang mundur jika kaki sudah melangkah.

Saat menerima tantangan Prof. Eko untuk menulis buku dalam seminggu, ada sejuta keraguan yang menyelimuti hati dan pikirannya. Berbagai pemikiran negatif menghantui, namun berkat kenekatan, dibarengi niat, tekad, serta konsistensi yang kuat akhirnya ekspektasi berubah menjadi sebuah prestasi. Saat diumumkan bahwa tulisan lolos tanpa revisi, seolah tak percaya. Tidak pernah menyangka bahwa tulisan yang menurut penilaian pribadi hanyalah tulisan biasa saja ternyata memiliki takdir luar biasa, menurut beliau.

Dari pengalaman ini dapat dipelajari beberapa hal dalam menulis:

1. Tulislah apa yang ingin kita tulis.

2. Menulislah apa adanya, tanpa beban, dan tekanan.

3. Jadikan menulis sebagai suatu kebutuhan

4. Menulislah hingga tuntas, jangan memikirkan editing.

5. Menulis jangan terlalu lama.

6. Jangan memikirkan baik buruknya tulisan kita, karna yang akan menilai adalah pembaca

Biasanya, kendala di awal menulis adalah bingung mencari ide. Tidak tahu apa yang akan ditulis. Untuk mengatasinya, marilah mulai menuliskan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Misal tentang hobi memasak, kegiatan sehari-hari, atau tingkah lucu anak-anak.

Tuliskan apa saja yang terlintas dalam pikiran. Tidak perlu memikirkan tata bahasa, ejaan dls. Setiap kalimat yang terlintas segera di tulis. Salah satu cara yang mudah dilakukan adalah menulis di HP. Pada saat tidak pegang HP, dapat juga menulis di benda apa saja yang kita temui. 

Hal yang paling sulit untuk memenuhi ekspektasi menulis adalah ketika tidak punya hobi menulis. Kata orang hanya "Iseng-iseng" atau ikut-ikutan. Tidak masalah, jika tidak memiliki hobi, bukankah rasa iseng jika terus dilatih bisa menjadi suatu ketrampilan?

Orang yang menulis tergantung mood merasa sangat berat ketika menerima tantangan untuk menulis dalam waktu singkat.  Rasanya bulan dan matahari berpindah tempat. Di saat seperti inilah narasumber menguatkan tekad dan niat untuk mencapai realitas. Jadi, menulis itu adalah sebuah perjuangan untuk melawan semua tantangan yang menggoyahkan niat.

Hal yang menjadikan fokus bagi narasumber  dalam menulis adalah kata TUNTAS. Jadi, menulislah hingga tuntas. Jangan sering menengok halaman yang sudah kita tulis, karena itu merupakan salah satu godaan yang membuat kita berpikir 1.000 kali tentang apa yang sudah kita tulis. kita akan berpikir untuk edit dan edit lagi. akhirnya tulisan kita tidak tuntas.


Resume 4 Pelatihan Belajar Menulis 9 Nopember 2020

 Resume 4 

(9 Nopember 2020) Menulis dan menerbitkan buku

Oleh: Pono,S.Pd.SD


Narasumber Ditta Widya Utami,S.Pd.

Moderator : Bu Kanjeng



Ada 2 hal yang  disampaikan narasumber kepada peserta pelatihan Belajar Menulis kaali ini, yaitu terkait menulis dan menerbitkan buku.

Materi pertama yang disampaikan narasumber adalah;

*Bagaimana Memulai Menulis*


Narasumber mengatakan bahwa menulis tak bisa lepas dari keseharian kita. Setiap hari, mungkin kita terbiasa menulis balasan chat di media sosial. Menulis jurnal harian mengajar. Menulis feedback untuk tugas siswa. dsb.

Tapi, ketika harus menulis buku. Menulis di blog. Rasanya seperti berlari sprin yang tiba-tiba menghantam tembok. Atau bertinju yang tiba-tiba KO. Atau bermain catur yang langsung skakmat.

Entah apa yang terjadi, seolah semua ide lenyap begitu saja. Tangan tiba-tiba tak bisa menulis. Bahkan lidah pun terasa kelu.

Keadaan seperti ini narasumber pun pernah mengalaminya.

Lalu, bagiamana cara mengatasi hal tersebut?

Lebih lanjut narasumber menyampaikan beberapa tips mengatasinya.

Ada beberapa tips yang pernah beliau lakukan dan mungkin bisa diterapkan pula oleh peserta pelatihan, yaitu :

1. Ikut kelas menulis

2. Ikut komunitas menulis

3. Ikut lomba menulis

4. Menulis apa saja yang ada di sekitar/dalam keseharian kita

5. Menulis apa saja yang kita suka

Banyak hal yang bisa didapatkan dari kelas menulis. Contohnya kelas menulis bersama Omjay ini. Selain mendapat ilmu, motivasi, tips dan trik menulis, terkadang kita pun mendapat kejutan tak terduga.

Narasumber pun menyampaikan tautan ke blognya uang berisi tulisan tentang hadiah kejutan dari PGRI.

https://dittawidyautami.blogspot.com/2020/04/hadiah-kejutan-dari-pgri.html?m=1 

Tulisan ini mengabadikan ingatan narasumber ketika mendapat hadiah kejutan berupa buku dari PGRI karena salah satu resume yang telah beliau buat.

Sedangkan tulisan berikutnya adalah tulisan yang mengantarkan narasumber mendapat sepaket kurma ruthob dari KSGN dan PGRI.

Narasumber menyatakan bahwa ikut komunitas menulis juga dirasa perlu. Karena dalam komunitas itulah kita bisa berbagi tulisan dan membaca tulisan orang lain sehingga kemampuan menulis pun semakin terasah.

Menurut narasumber saat ini sudah banyak sekali komunitas menulis yang bisa diikuti. Terlepas apakah komunitas tersebut dibuat khusus untuk guru ataupun umum.

Tips yang ketiga adalah ikut lomba. Ini cocok bagi siapa pun yang menyukai tantangan. Dengan mengikuti lomba, kita bisa belajar membuat tulisan dengan berbagai tema dalam waktu yang  terjadwal.

Tips berikutnya jika masih merasa sulit menulis adalah tulis saja apa yang ada di sekitar kita atau yang kita alami hari ini.

Dulu saat menjadi binaan Omjay di Kelas Menulis Gelombang 7, Omjay rutin mengirim foto setiap hari untuk diubah menjadi tulisan.

Ada foto ketoprak, gorengan, kucing, dan rempeyek. Foto itu harus jadi tulisan minimal 3 paragraf. Seru dan sekaligus membuktikan bahwa memang benar apa saja yang ada di sekitar kita bisa kita ubah menjadi tulisan loh!

Jika belum mempan, mari buat tulisan tentang keseharian kita. Seperti diari. Itu pun tak apa. Yang penting menulis agar kemampuan kita semakin terasah.

Misalnya tulis saja kisah mencari tanaman keladi putih di hutan atau saat hiking dsb.

Tips kelima yaitu tulislah apa yang kita suka. Karena jika sudah suka biasanya bakal awet.

Bapak/Ibu senang berkebun (lagi booming lagi nih ya menanam bunga), silakan tulis tentang berkebun.

Bapak/Ibu senang memasak? Silakan berbagi dengan jenis teks prosedural resep memasak, dsb.

Pokoknya tulis apa yang kita suka dan kita kuasai.


*Harus menulis dimana?*


Ketika ingin menulis, tentu kita butuh medianya. Menulis  bisa kita lakukan di :

Blog

Buku harian

HP/Laptop

atau platform menulis online seperti wattpad dan storial

Bahkan media sosial pun bisa kita buat sebagai sarana untuk menulis. Menulis dimana saja yang penting rutinkan atau buat target berapa tulisan yang harus dibuat dalam sehari, seminggu, sebulastorial


*Menulis buku solo atau kolaborasi.

Kalau menulisnya sudah dilakukan dan dirutinkan, tinggal naik tahap. Yaitu menerbitkan buku.

Kumpulan tulisan kita di blog, jurnal harian, serta draft-draft yang ada di laptop atau hp bisa kita bukukan. Banyak alumni menulis bersama Omjay yang sudah membuktikan.


Mending menulis buku solo atau kolaborasi?

Ada beberapa hal yang membedakan saat kita menulis buku solo dengan kolaborasi.

Misal dari tema dan waktu untuk buku solo tentu kita bebas menentukan apa temanya dan kapan mau beresnya. Apakah seminggu, sebulan, menahun? 

Sedangkan jika menulis bersama, tentu tulisan yang kita buat harus sesuai tema sesuai ketentuan dan waktunya pun sesuai yang dijadwalkan.

Ini contoh buku solo, berisi kumpulan kisah yang terinspirasi dari anak didik.

Setiap ada kejadian unik, atau meminjam istilah Munif Chatib yaitu "momen spesial", segera  dicatat.

Saat ada kesempatan, dituangkan dalam bentuk cerpen.

------

Untuk konsisten produktif menulis, bisa menerapkan 5 hal ini;

1. Cari apa saja yang bisa ditulis. Walau hanya 1 paragraf. Di tulisnya bisa di berbagai media. Bahkan di status WA sekalipun.

Namun niatkan, agar tulisan kita bermanfaat bagi orang lain.

Kecuali seperti diary, biasanya pengalaman sehari-hari ditulis agar ingat seperti apa di masa lalu sebagai bahan evaluasi diri.

2. Untuk mengusir rasa malas, refresh otak dan hati terlebih dahulu. Bisa dengan melakukan hal yang kita sukai. Atau membaca beberapa buku ringan dan menghibur.

3. Pengalaman berkolaborasi adalah salah satu hal yang tak kan terlupa.

Di Gelombang ke-7, Prof Eko saat menjadi narasumber menantang peserta untuk menulis hanya dalam waktu 1 Minggu!

Temanya bisa diambil dari channel YouTube beliau.

Saat itu saya sempat berpikir apakah akan mengambil kesempatan ini atau tida