Halaman

Tantangan menulis lomba blog PGRI hari kesepuluh

 Tugas Liburan

Oleh: Pono, S.Pd.SD



Sebagian orang tua murid mengeluh tidak bisa menjadi guru bagi anak-anaknya. Sebagian yang lain mengeluhkan perilaku anak-anaknya. Ada lagi yang mengeluh karena tidak mempunyai paket internet untuk belajar anaknya. Sekurang-kurangnya itulah beberapa yang saya dapatkan dari interaksi dengan orang tua murid.

Dengan diberlakukannya program WFH, anak-anak tidak lagi ke sekolah. Hingga kini hampir satu tahun sejak Pandemi Covid-19 melanda negeri ini. Berbagai program telah dilakukan, baik oleh pemerintah melalui dinas pendidikan maupun oleh sekolah-sekolah sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan secara langsung.

Semua dilakukan tidak lain agar proses pendidikan dan pengajaran terlaksana dengan baik meski di masa Pandemi Covid-19. Beberapa kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat dalam menyikapi situasi Pandemi Covid-19 yang populer antara lain: penyederhanaan kurikulum pendidikan, program guru belajar, program guru berbagi, bahkan tak tanggung-tanggung pemberian kuota belajar bagi guru dan murid di seluruh Indonesia.

Tidak ketinggalan sekolah-sekolah sebagai institusi yang melaksanakan pendidikan secara langsung kepada murid juga mempunyai program yang tentunya di sesuaikan dengan kondisi lingkungan. Setengah dari sekolah melaksanakan pembelajaran daring, setengah yang lain melaksanakan pembelajaran luring atau kombinasi dari keduanya yang biasa disebut dengan Blended Learning. 

Sebaik apapun program yang dijalankan sekolah bukan tanpa kendala. Hal itu wajar mengingat kondisi yang beragam. Murid yang satu dengan lainnya memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Begitu pula dengan fasilitas yang ada di sekolah. Satu sekolah dengan sekolah yang lain memiliki fasilitas yang tidak sama.

Apapun kendala yang dihadapi dapat ditemukan pemecahannya jika semua pihak bersungguh-sungguh dalam menyikapi kondisi yang ada. Baik sekolah maupun orang tua rela memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak. 

Salah satu persoalan yang timbul pada anak semenjak diberlakukannya WFH adalah intensitas belajar anak menurun. Anak lebih suka bermain gadget ketimbang belajar. Sebagian anak yang lain lebih suka bermain seharian daripada membaca buku atau berlatih mengerjakan soal matematika. Ada juga yang lebih suka berkunjung ke rumah saudara daripada bermain di rumah sendiri.

Informasi mengenai kebiasaan anak-anak saya dapat ketika orang tua murid mengambil buku rapor semester satu. Kebiasaan orang tua yang mengambil rapor anak-anaknya memang sudah berlangsung selama bertahun-tahun di sekolah tempat saya mengajar. Selain maksud silaturahmi, juga bisa digunakan konsultasi serta bertukar informasi antara guru dan orang tua terkait kondisi belajar anak.

Kebiasaan anak suka bermain wajar mengingat anak usia Sekolah Dasar masih dalam tahap pertumbuhan. Tinggal bagaimana orang tua dan guru mengarahkan anak pada aktivitas yang bermanfaat dan seimbang.

Salah satu usulan orang tua murid kepada guru guna menyikapi kebiasaan anak bermain gadget serta bermain berlama dalam mengisi waktu liburan adalah guru memberikan tugas untuk dikerjakan anak di masa libur semester. Tugas yang diharapkan yang tidak menguras pikiran namun dikerjakan dalam agak lama, dengan tujuan anak-anak menggunakan waktu libur untuk kegiatan yang terarah. Sehingga orang tua mudah dalam mengingatkan anak untuk mengerjakan tugas dari guru.

Guna merespon usulan dari orang tua, saya merancang kegiatan untuk anak yang dapat dikerjakan untuk mengisi waktu liburan. Mengingat libur semester dilaksanakan dalam tempo dua minggu, saya pun merancang dan memberikan tugas sederhana untuk dilakukan selama dua Minggu. Saya memberikan tugas sebanyak 4 macam, dengan pertimbangan dua tugas selesai dalam waktu satu minggu.

Adapun tugas yang saya berikan kepada anak-anak adalah:

*Menggambar desain batik pada kertas gambar

*Membuat kerajinan tempat pensil dari bahan bambu

*Membuat 4 bait pantun nasihat

*Menulis prosa tentang pengalaman sewaktu libur semester menggunakan bahasa sendiri.

Pemberian tugas seperti di atas tentunya bukan tanpa sebab dan tujuan. Sebagai contoh tugas keempat, yaitu menuliskan pengalaman liburan. Mengenai tugas menulis pengalaman pribadi sewaktu libur sudah saya terapkan sejak bertahun-tahun yang lalu sebelum Pandemi Covid-19 kepada anak kelas tinggi pada hari pertama atau kedua masuk sekolah di awal semester. Tujuan saya saya waktu itu untuk mengetahui minat anak serta mengetahui kebiasaan anak di luar sekolah. Namun untuk tugas menulis pengalaman kali ini dilakukan menggunakan ponsel yaitu melalui aplikasi Whatsapp dan dikirim secara pribadi ke nomor saya.

Bagi anak-anak yang merasa penting melaksanakan tugas membuat prosa dengan baik, maka secara otomatis ia akan lebih berhati-hati dalam mengisi liburan agar tulisan yang dihasilkan baik. Begitu pula dengan tugas yang ketiga yaitu membuat 4 bait pantun nasihat. Dengan berusaha membuat pantun nasihat, maka secara otomatis anak-anak menasihati diri sendiri. Jawaban tugas ketiga juga dikirim melalui nomor Whatsapp. Mengapa memilih aplikasi WhatsApp? Karena hari ini banyak yang menggunakannya.

Tugas membuat kerajinan dari bambu untuk merangsang kreatifitas anak dalam mengolah benda - benda yang ada di sekitar tempat tinggal anak. Sedangkan  menggambar desain batik untuk menumbuhkan jiwa seni.

Setelah selesai menggambar desain batik selanjutnya anak-anak memfoto hasil karyanya dan mengirimkan ke nomor WA. Begitu pula dengan tugas membuat kerajinan dari bambu. Bedanya tugas membuat  benda tiga dimensi, selain difoto juga bukti fisik dikirim ke sekolah.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai tugas anak-anak kelas 6 di masa libur semester. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya. 


Salam persahabatan,


Banjarnegara 10 Pebruari 2021 sebelum tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar