Tantangan menulis lomba blog PGRI hari ketujuh

Tak ada Agenda Sekolah

Oleh: Pono, S.Pd.SD


Hari ini hujan turun sejak pagi. Tidak deras memang. Hanya rintik-rintik, namun cukup mendinginkan punggung petani yang terpaksa harus mencari rumput pakan kambing peliharaannya. Aku pun hanya terdiam sambil menatap layar ponselku. Sambil memangku Nurul, anakku yang baru berumur 5 bulan yang tengah terlelap tidur. Ia tampak pulas sekali, aku tak mau membangunkannya, meskipun pada hari-hari biasa jam 7 sudah dimandikan oleh ibunya. Dengan perlahan aku  mengambil ponsel yang ada di atas loker dan melihat isinya.  Bilqis, kakaknya yang  bersekolah di TK PGRI dekat rumahku sedang asyik bermain sendiri di depan kusen jendela ruang tamu. Ia tampak sedang menyaksikan rintik-rintik hujan yang turun membasahi halaman depan rumahku. Sesekali tampak olehku ia menari sambil melompat-lompat di tengah suara hujan mengguyur. Sepertinya ia menikmati irama musik yang dihasilkan hujan pagi ini.

Ku tatap lagi layar ponselku. Ponselku memang tak mahal. Namun aku menatapnya setiap hari tidak kurang lima jam. Bukan karena aku sangat menyayanginya. Aku menggunakannya untuk banyak keperluan. Salah satunya untuk menulis di blog.  Tak berapa lama ku arahkan kembali pandanganku ke jendela tempat Bilqis berada sebelumnya. Ia tidak ada di tempatnya. Hujan terus mengguyur, Nurul masih terlelap dalam tidurnya seakan dinina bobokan suara hujan. Aku tak berani bersuara keras. Takut membangunkan Nurul sebelum ia cukup dalam tidurnya. Biasanya bayi jengkel kalau terbangun dari tidur pada saat yang kurang tepat. Ku pandangi setiap penjuru ruang tamu kalau-kalau Bilqis ada di sudut ruangan yang terbebas dari jangkauan pandangan mataku. 

Saat ku menatap kembali layar ponselku sambil sesekali menengok ke halaman melalui kaca jendela, terdengar sayup-sayup suara anak kecil melafalkan beberapa kata dalam bahasa Arab berulang-ulang. Rupanya Bilqis sedang membaca buku Qiroati yang biasa ia bawa mengaji di TPQ setiap sore. Bilqis memang nggak bisa diam, apalagi jika Via temannya yang masih kerabat datang untuk bermain bersamanya. Rumah seakan kapal pecah. Tapi tak apa lah. Karena itu bagian dari proses belajarnya dalam mengenali benda-benda di sekitarnya. Yang penting setelah selesai mereka merapikan sendiri mainannya.  Jika sudah bersama temannya, dalam hitungan  detik semua lantai di pekarangan rumah sudah terinjak telapak kakinya yang masih cukup kecil.

Hari ini Ahad 7 Pebruari 2021. Tidak ada agenda sekolah yang ku kerjakan. Biasanya hari Ahad memang khusus untuk urusan keluarga. Namun karena berkomitmen untuk menulis di blog setiap hari di bulan Pebruari, saya menggunakan kesempatan untuk mencapai target harian menulis sebayak minimal 300 kata. 

Matahari tak berani muncul. Terhalang awan yang menitikkan air hujan. Menurut prakiraan cuaca yang disampaikan oleh google hari ini memang akan turun hujan disertai petir. Nasib baik petir tak muncul, hujan pun teratur. Agak sedikit lega rasanya, karena tugas mengoreksi hasil karya anak-anak sudah rampung hari Sabtu kemarin. Buku tugas siap dibagikan Rabu depan sesuai kesepakatan. Kesempatan bagiku meregangkan otot-otot serta melemaskan sendi-sendi tulangku. Di dapur istri sedang memasak daun pepaya kesukaanku.  Setelah masakan siap dihidangkan ia pun memanggilku untuk segera menyantap hasil karya terbaiknya dalam mengolah bahan makanan.

Masih ada tugas sekolah yang belum sempat aku rampungkan. Namun biarkan aku lanjutkan hari Senin besok. Hari ini untuk melepas penat sembari bercengkerama dengan keluarga. Besok lagi-lagi aku akan menempuh jarak 30-an kilometer ke sekolah tempat aku bekerja. Lumayan jauh memang. Bagiku tidak masalah, asalkan tubuh berasa sehat dan sepeda motor kondisi baik. Sejak dua belas tahun yang lalu saya menempuh jarak puluhan kilometer setiap hari menghasilkan beragam kisah yang belum dituliskan. Itulah salah satu sebab mengapa saya mengikuti pelatihan Belajar Menulis. Harapan saya suatu hari dapat menghasilkan tulisan atas apa yang sudah saya lakukan. 

Tidak ada komentar: